Home INOVASI Teknik Mammogram Baru dengan AI untuk Cek Resiko Kanker Payudara

Teknik Mammogram Baru dengan AI untuk Cek Resiko Kanker Payudara

0
Teknik Mammogram Baru dengan AI untuk Cek Resiko Kanker Payudara
Teknik Mammogram Baru dengan AI untuk Cek Resiko Kanker Payudara. Kredit gambar pexels.com
Perkiraan waktu membaca artikel ini: 2 minutes

TECHSTORY.ID – Peneliti dari University of Melbourne tengah mengembangkan teknok mammogram baru untuk memprediksi resiko kanker payudara. Dalam penelitian yang telah terbit di International Journal of Cancer, para peneliti menemukan dua ukuran risiko berbasis mammogram baru. Ketika keduanya digabungkan, mereka lebih efektif dalam membuat stratifikasi wanita dalam kaitannya dengan risiko kanker payudara daripada kepadatan payudara dan semua faktor risiko genetik yang diketahui.

Para peneliti mengatakan, jika teknik ini berhasil diadopsi, ia secara substansial dapat meningkatkan skrining, membuatnya menjadi lebih efektif dalam mengurangi kematian, dan mengurangi stres bagi wanita.

Semenjak akhir 1970-an, para ilmuwan telah mengetahui bahwa wanita dengan payudara lebih padat, yang pada mammogram terlihat memiliki lebih banyak area putih atau cerah, lebih mungkin untuk didiagnosis kanker payudara dan melewatkannya saat pemeriksaan. Bekerja sama dengan Cancer Council Victoria dan BreastScreen Victoria, para peneliti di University of Melbourne menjadi pihak pertama yang mempelajari cara lain untuk menyelidiki risiko kanker payudara menggunakan mammogram.

Para peneliti menemukan dua ukuran baru untuk mengekstraksi informasi risiko dengan menganalisis gambar mammogram dari sejumlah besar wanita dengan dan tanpa kanker payudara pada program komputer: Cirrocumulus yang didasarkan pada area paling terang dan Cirrus yang merujuk pada tekstur.

Memanfaatkan AI (Kecerdasan Buatan) 

Para peneliti menggunakan metode komputer semiotomatis untuk mengukur kepadatan payudara secara umum dan tingkat kecerahan lebih tinggi berturut-turut untuk membuat Cirrocumulus. Mereka kemudian menggunakan kecerdasan buatan dan komputasi berkecepatan tinggi untuk mempelajari aspek tekstur mammogram yang memprediksi risiko kanker payudara dan menciptakan Cirrus.

Menggabungkan pengukuran Cirrocumulus dan Cirrus akan secara substansial meningkatkan prediksi risiko di luar semua faktor risiko lainnya yang telah diketahui.

Hasil Signifikan

Peneliti utama dan profesor di University of Melbourne, John Hopper, menyatakan bahwa penelitian mereka bisa menjadi yang paling signifikan sejak gen kanker payudara BRCA1 dan BRCA2 ditemukan 25 tahun lalu.

“Tindakan ini dapat merevolusi pemeriksaan mamografi dengan sedikit biaya tambahan, karena mereka hanya menggunakan program komputer,” kata Hopper dikutip dari rilis pers via Eurekalert, Rabu (29/12/2020).

Langkah-langkah baru ini, ujar Hopper, juga dapat digabungkan dengan beberapa faktor risiko lain yang dikumpulkan saat skrining.

“Misalnya, riwayat keluarga dan faktor gaya hidup, untuk memberikan gambaran yang lebih kuat dan holistik tentang risiko wanita,” tutur Hopper.

Bagikan artikel ini:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Solve : *
28 − 2 =