Perkiraan waktu membaca artikel ini: 2 minutes

TECHSTORY.ID – Belanja online saat ini sudah menjadi budaya bagi masyarakat Indonesia, apalagi semenjak pandemi Covid-19 terjadi. Banyak masyarakat yang lebih memilih berbelanja melalui e-commerce dari pada belanja langsung di lokasi, tentu hal ini akan meminimalisir terjadinya penularan terhadap virus Covid-19.

Kemudahan berbelanja melalui e-commerce inipun akhirnya mengalami perubahan dengan memanfaatkan platform sosial media. Apalagi mengingat jumlah pengguna sosial media di Indonesia sekitar 150 juta orang (We are Social 2019) pada tahun 2019 lalu. Selain itu juga banyak diantara pengguna juga telah lama memanfaatkan sosial media sebagai media penjualan, mempromosikan dagangan. ataupun jasa. Anda mungkin juga pernah memanfaatkannya, entah menjadi pelaku usaha atau konsumen. Perilaku itu kemudian “disempurnakan” perusahaan sosial medi dengan menyediakan fitur atau platform khusus bagi mereka, yang ingin melakukan kegiatan jual-beli lewat media sosial. Sebut saja yang baru dirilis di Indonesia adalah Instagram Shop.

instagram shop

Fitur belanja Instagram Shop ini menjadi tempat para pelaku bisnis untuk membuat etalase digital di Instagram mereka. Tujuannya tentu untuk memudahkan konsumen berburu barang impian dengan mudah di Instagram tanpa perlu keluar aplikasi. Ada istilah khusus untuk menggambarkan fenomena ini, yakni social commerce. Singkatnya, social commerce adalah pemanfaatan media sosial untuk promosi, menjual, dan membeli langsung di aplikasi sosial media.

Menurut Hoot Suite, dengan social commerce, pengguna tidak cuma merasakan pengalaman bersosialisasi di dunia maya, tapi sekaligus mencari produk yang diinginkan, mencari toko terbaik, memilih dan membeli produk, hingga melakukan transaksi langsung lewat aplikasi media sosial. Tentu pengalamannya akan berbeda dengan membuka aplikasi e-commerce yang memang hanya difokuskan pada layanan jual-beli. Sehinggga interaksi pun hanya terjadi antara penjual-pembeli.

Di sosial media, pengalaman berbelanja akan lebih interaktif. Pengguna bisa membagikan produk yang diinginkan atau yang baru dibeli ke teman mutualnya langsung melalui platform yang sama. Mereka juga bisa mendiskusikan produk yang dipilih sebelum akhirnya membeli atau menawarkan produk yang dibelinya. Social commerce berbeda dengan social selling. Social selling lebih diartikan sebagai cara untuk memprospek calon konsumen potensial, membangun kepercayaan dengan cara yang lebih humanis, hingga memasarkan produk atau jasa kepada mereka lewat media sosial. Sementara social commerce memiliki fitur lebih lengkap, mulai dari memasang etalase atau katalog, mempromosikan, memberikan informasi produk lebih singkat, hingga transaksi jual beli.

Instagram Shop

Untuk Indonesia sendiri kasusnya agak berbeda. Layanan belanja di Instagram, Facebook, maupun WhatsApp Business masih membutuhkan platform pihak ketiga untuk melakukan transaksi pembayaran. Misalnya untuk Instagram Shop, pengguna harus melakukan transaksi pembayaran di situs resmi toko yang sudah terintegrasi melalui Facebook Commerce Manager yang merupakan backend katalog produk di Facebook dan Instagram. Hal ini dikarenakan fitur pembayaran Facebook Pay belum beroperasi di Indonesia. Mungkin, jika sudah mendapatkan izin beroperasi, Instagram Shop dan Facebook Shop akan lebih sempurna menjadi social commerce.

 

*sumber: Kompas Tekno, Hoot Suite.

Bagikan artikel ini:

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Solve : *
20 + 10 =