Perkiraan waktu membaca artikel ini: 2 minutes

TECHSTORY.ID – Pandemi Covid-19 membawa begitu banyak dampak dalam kehidupan manusia, baik dalam bidang kesehatan, ekonomi, pendidikan juga teknologi. Dengan adanya pembatasan kegiatan di luar rumah, masyarakat kini lebih banyak memanfaatkan waktunya dengan berbagai teknologi internet untuk melakukan berbagai hal secara online. Mulai dari bekerja, berbelanja, belajar, hingga menikmati hiburan.

working from home
Kredit unsplash.com

Di balik percepatan penerapan teknologi informasi yang semakin tinggi, tentu memiliki resiko yang besar, kita dihadapkan pada ancaman cyber crime alias kejahatan dunia maya. Berdasarkan laporan 2020 State of Malware Report yang diterbitkan oleh Malwarebyte Labs, Indonesia merupakan negara dengan ancaman kasus kejahatan dunia maya tertinggi di wilayah Asia Pasifik. Salah satu kasus terparah adalah ransomware WannaCry di tahun 2017 lalu yang sempat menginfeksi banyak industri di Indonesia, termasuk rumah sakit.

Bahaya dari ransomware saat ini sangat nyata dan semakin canggih tiap waktu, serta hampir tidak dapat terdeteksi oleh program anti-malware tepat waktu. Ransomware berbasis enkripsi akan mengenkripsi file yang disimpan di komputer dan menyebar ke semua jaringan. Bahkan setelah terinfeksi, tidak ada jaminan bahwa data yang terinfeksi dapat dikembalikan. Parahnya lagi, menurut penelitian yang dilakukan oleh Ponemon Institute LLC, 59% responden tidak yakin dengan kemampuan perusahaan mereka untuk melindungi diri dari serangan ransomware.

Dalam melindungi diri dari bahaya ransomware, perusahaan perlu memiliki sikap proaktif dan preventif. Mulai dari melakukan security update secara berkala, penggunaan firewall untuk memisahkan extranet dengan jaringan lokal, serta menggunakan VLAN untuk membagi intranet menjadi area-area yang lebih kecil, untuk mengurangi jangkauan risiko infeksi ketika terjadi serangan. Selain itu, para karyawan juga perlu diberikan pemahaman mengenai keamanan informasi secara rutin, misalnya mengenai bahaya membuka tautan atau link sembarangan dari email atau website yang tidak dikenal.

Selain itu juga, hal paling penting untuk diperhatikan adalah mengenai proses backup data yang komprehensif, sehingga apabila terjadi serangan yang menyebabkan hilang atau rusaknya data yang dimiliki, data tersebut dapat segera dipulihkan dengan segera agar bisnis tetap berjalan. Salah satu langkahnya adalah dengan menggunakan layanan multi-version backup solution yang dimiliki oleh Synology.

Salah satu perusahaan multinasional SHISEIDO beberapa tahun lalu mengalami serangan ransomware. Mereka lantas menerapkan layanan Synology Active Backup for Business untuk mengelola proses cross-platform backup dari PC, virtual machine, dan server Windows ke dalam Synology NAS, dengan waktu yang lebih cepat, serta menghemat penggunaan kapasitas storage hingga 56%.

Selain itu, ada pula BBC Media Action yang menggunakan layanan Synology Hyper Backup untuk melakukan backup data rutin secara otomatis dari 16 kantor mereka di seluruh dunia. Dengan kemudahan pengelolaan dan antarmuka yang intuitif, kantor pusat mereka di London dapat menerima update harian secara langsung tanpa harus meminta bantuan dari tim IT. Kolaborasi antar kantor cabang pun dapat dilakukan secara efisien.

Solusi multi-version backup dengan opsi pemulihan cepat dan fleksibel sangat penting dan diperlukan oleh bisnis, terutama dalam menghadapi berbagai serangan cyber crime yang selalu mengintai setiap saat. Dengan solusi ini, proses pemulihan data dapat dilakukan dengan lebih cepat dan mudah setelah terjadi serangan, serta bisnis dapat tetap berjalan seperti sediakala.

 

*sumber dailysocial.id

Bagikan artikel ini:

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Solve : *
20 + 20 =