Perkiraan waktu membaca artikel ini: 5 minutes

TECHSTORY.ID – Kabar terhangat di awal minggu ini yang sedang banyak dibicarakan semua orang adalah merger antara Gojek dan Tokopedia, dua startup teknologi Indonesia yang sedang berada di puncaknya.

Berdasarkan sumber Bloomberg yang mengetahui transaksi itu namun tidak disebutkan namanya, menyatakan bahwa  kedua entitas unikorn yang dirintis oleh William Tanuwijaya dan Nadiem Makarim itu telah menandatangani lembar persyaratan terperinci untuk melakukan uji tuntas bisnis masing-masing (due diligence). Bahkan diperkirakan rencana aksi ini dapat terwujud dalam beberapa bulan mendatang. Selanjutnya raksasa startup dari Indonesia hasil penggabungan ini akan melakukan pencatatan saham atau go public di pasar modal Amerika Serikat dan Indonesia.

Dalam valuasi sementara, perusahaan gabungan hasil merger akan bernilai sekitar US$18 miliar atau sekitar Rp252 triliun (dengan kurs Rp14.000).

Dengan bergabungnya Gojek dan Tokopedia akan mendominasi ekonomi Indonesia. Pasalnya kedua perusahaan raksasa teknologi ini telah membentangkan bisnisnya ke dalam berbagai lini kehidupan. Mereka juga aktif berinvestasi pada perusahaan rintisan yang mendukung konsep perluasan layanan.

Dalam situsnya saat ini, Gojek menjalankan bisnis berupa layanan transportasi yang terdiri dari Goride, Gocar, Go Bluebird, Go Send dan Go Box. Perusahaan juga menguasai bisnis paket antar makanan melalui Go Food dan mengembangkan startup kesehatan melalui Gomed. Lini bisnis Gojek lainnya yang sudah kokoh adalah dompet digital Gopay. Layananan ini bahkan sudah mapan dan disebut menjadi salah satu sumber pendapatan perusahaan. Lini ini juga mengakuisisi Bank Jago pada Desember 2020 lalu. Meski belum menjadi pemegang saham pengendali, akuisisi ini memudahkan perusahaan untuk melakukan ekspansi perbankan digital. Di sektor keuangan Gojek juga memiliki layanan Go Tagihan, Pay Later, hingga Go Investasi. Mereka juga mengembangkan bisnis asuransi di bawah naungan Gosure dan serta Social Crowdfunding dengan tajuk Gogive.

Besarnya pelanggan UMKM dalam ekosistem Gojek membuat perusahaan yang dimulai dari pengelolaan ojek pangkalan ini mengembangkan Gobiz. Ekosistem pengelola bisnis usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) untuk semua kebutuhan usaha. Layanan ini memberi manfaat analisa laporan keuangan, pengelolaan pesanan dalam Gofood, dompet digital dan hingga pengelolaan belanja iklan dan promo.

Seluruh jasa ini menambah pendapatan Gojek, karena UMKM yang dikelola dapat menjadi nasabah sistem keuangan mereka dengan catatan keuangan yang rapi dan membutuhkan asuransi serta dukungan pinjaman modal.

Gojek juga baru saja memperbaharui ekosistem bisnis iklan luar ruang mereka melalui Goscreen pada akhir 2020. Dengan fitur lebih ramah UMKM, sehingga pemasang iklan dapat menyesuaikan dengan anggaran dan hanya untuk area tertentu. Dua lagi ekosistem Gojek yang sudah mapan dan mendatangkan uang masuk adalah Goplay dengan bisnis penyewaan film dan bisnis penjualan tiket, Gotik.

Maka tidak heran, penelitian Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LED FEB UI) mencatat tambahan sumbangan ekonomi Gojek dalam ekonomi Indonesia pada 2019 atau sebelum pandemi Covid-19 mencapai Rp104,6 triliun.

Tambahan karena yang dihitung dalam penelitian ini adalah selisih sebelum bergabung dengan Gojek dibandingkan dengan setelahnya. Perinciannya dalam ekosistem Gofood meraup Rp34,1 triliun, GoCar sebesar Rp7,7 triliun, UMKM GoPay (Rp9,9 triliun), sosial seller dengan Gosend (Rp24,3 triliun), Go Ride (Rp11,1 triliun) serta UMKM di luar ekosistem Gojek Rp17,5 triliun.

Dalam penelitian yang terdiri dari Paksi Walandouw, Alfindra Primaldhi, I Dewa G. K. Wisana dan Aditya Harin Nugroho itu disebutkan bahwa ekosistem Gojek menggerak uang sebesar Rp152 triliun pada tahun lalu. Jumlah ini setara 1 persen PDB negeri ini.

Demikian juga dengan calon mitra merger Gojek, Tokopedia. Perusahaan rintisan ini memiliki ragam bisnis yang fokus pada ritel. Tokopedia juga menguasai lebih dari 1 persen PDB negeri ini.

Dengan 9,9 juta penjual yang tergabung dalam ekosistem, perusahaan telah berkembang menjadi penyedia layanan toko resmi, reksadana, emas, pinjaman online, pinjaman modal, kartu kredit hingga asuransi. Bisnis lain adalah menyediakan jasa layanan pembayaran untuk berbagai tagihan hingga dukungan layanan antar.

Perusahaan juga menjaring mitra untuk menjadi reseller melalui program Mitra Tokopedia. Para pelaku usaha baru itu dapat menerima pembayaran tagihan listrik, angsuran kredit, hingga tagihan air, BPJS, TV kabel dan Telkom. Mereka juga mengembangkan bisnis kurir sehingga mendorong para mitra menjalankan bisnis grosir tanpa melakukan penyetokan barang.

Riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) memberikan perputaran ekonomi sebesar Rp170 triliun pada 2019 lalu.

Data ini mengacu jumlah penjual dalam ekosistem Tokopedia sebesar 6,4 juta pada saat survei dilakukan. Sementara itu dilihat pada Selasa (5/1/2021) jumlah penjual Tokopedia di tengah pandemi ini telah mencapai 9,9 juta.

Jika mengacu pada penelitian LPEM UI, para penjual itu tersebar di 96 persen kota/kabupaten di Indonesia dengan pemasaran lebih dari 200 juta jenis barang ke pelosok negeri. Riset ini merangkum total nilai penjualan (GMV) pada 2019 diperkirakan sebesar Rp222 triliun atau setara 1,5 persen PDB.

IPO (Initial Public Offering)

Jika kita mengacu pada transaksi 2019, maka ekosistem gabungan hasil merger mencapai hampir 3 persen ekonomi Indonesia atau setara Rp275 triliun sebelum pandemi. Tentunya jumlah ini akan mengalami peningkatan yang tajam seiring pertumbuhan mitra yang bergabung ke dalam ekosistem kedua perusahaan jika ekonomi Tanah Air pulih seperti ramalan pemerintah dalam beberapa tahun ke depan.

Chief Corporate Affairs Gojek, Nila Marita mengatakan bahwa perusahaan tidak bisa memberikan komentar atas rencana merger itu.

“Kami tidak dapat memberikan komentar terhadap rumor dan spekulasi di pasar,” ungkapnya seperti dikutip dari Bisnis.com, Selasa (5/1/2021).

Adapun, pihak Tokopedia pun kompak untuk tidak mengkonfirmasi kabar yang tengah beredar.

“Untuk menjawab pertanyaan ini, kami tidak dapat memberikan komentar terhadap rumor dan spekulasi di pasar,” ujar perwakilan Tokopedia yang tidak bersedia disebutkan namanya.

Menurut ekonom Indef Bhima Yudhistira Adhinegara menilai bahwa rencana merger kedua unikorn tersebut disebabkan oleh tekanan masing-masing investor untuk membalikkan modal yang ditanam. Para investor melihat kedua perusahaan telah matang dan melewati masa promosi atau ‘bakar uang’ untuk tumbuh. Kedua perusahaan saat ini telah memasuki tahap lanjut untuk meraup keuntungan.

“Gojek sudah cukup dominan di sektor transportasi online dan pesan antar makanan, sementara Tokopedia masuk ke dalam big four perusahaan besar di dagang el, sehingga merger keduanya untuk menciptakan super ekosistem dalam satu grup konglomerasi digital,” kata Bhima kepada Bisnis.com.

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan dampak merger akan sangat menguntungkan bagi keduanya. Hal ini karena desakan kedua perusahaan untuk semakin pulih mencapai profit dalam mengantisipasi dampak pandemi Covid-19.

“Bila diibaratkan pernikahan, [Gojek dan Tokopedia] ini perkawinan yang sangat serasi, karena memperkuat ekosistem kedua perusahaan dan ujungnya makin mengukuhkan posisi keduanya dalam bisnis digital di Indonesia dimana Tokopedia akan menjadi next decacorn juga menyusul Gojek,” ujarnya.

IPO dua rakasa startup ini telah lama diharapkan oleh regulator dan investor. Gojek sendiri tercatat telah mencicil masuk pasar modal melalui anak usaha dengan mengakuisisi entitas yang sudah ada seperti Bank Jago (ARTO) hingga Bluebird (BIRD). Para bos perusahaan rintisan ini bahkan telah menyebutkan rencana dual listing namun masih belum terwujud.

Sedangkan pihak Tokopedia pada akhir 2020 lalu mengumumkan telah menunjuk dua penasehat keuangan yakni Morgan Stanley dan Citigroup untuk membantu perusahaan menjadi perusahaan publik.

“Kami tengah mempertimbangkan untuk mengakselerasi rencana kami untuk menjadi perusahaan publik, dan telah menunjuk Morgan Stanley dan Citi sebagai penasihat kami dalam hal ini. Saat ini, kami belum memutuskan pasar dan metode untuk ini,” ujar manajemen Tokopedia, Kamis (17/12/2020) sperti dikutip dari Bisnis.com

Akankah merger kedua raksasa ini mulus dan menjadi rekor IPO di Asia pada tahun ini?

Bila mengacu valuasi Bloomberg atas entitas gabungan sebesar Rp252 triliun, maka hanya dengan pelepasan saham 3 persen saham hasil merger Gojek – Tokopedia di Bursa Efek Indonesia akan setara Rp7,6 triliun. Ini sudah menjadi rekor IPO terbesar setidaknya dalam 5 tahun terakhir di Tanah Air. Rekor IPO sejauh ini masih dipegang oleh PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) dengan nilai emisi Rp5,16 triliun.

 

*Diolah dari sumber bisnis.com, dailysocial.com

Bagikan artikel ini:

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Solve : *
46 ⁄ 23 =